VIVAnews - Pemimpin Libya, Muammar Khadafi, menegaskan tidak akan melepaskan kekuasaannya di Libya. Dia mengaku tidak terpengaruh dengan membelotnya sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menteri Luar Negeri Moussa Koussa.
Seperti dikutip dari kantor berita Associated Press, Khadafi kemudian membuat pernyataan kontroversial yang disampaikan lewat stasiun televisi pemerintah, Kamis 31 Maret 2011. Menurut dia, justru para pemimpin negara-negara pasukan koalisi yang seharusnya mundur dari jabatan mereka, bukan Khadafi.
Khadafi menuding sejumlah kepala negara koalisi telah menyerang Libya karena gila kekuasaan.
"Solusi untuk masalah ini adalah mereka harus mundur secepatnya. Kemudian rakyat di negara mereka mencari orang lain untuk menggantikan kepemimpinan mereka," kata Khadafi.
Sementara itu, pasukan oposisi menilai pembelotan sejumlah pejabat dari lingkar dekat Khadafi merupakan suatu pukulan bagi pemimpin yang telah 42 tahun berkuasa itu. "Kami percaya rezim Khadafi akan hancur dari dalam," kata Juru Bicara Oposisi, Mustafa Gheriani di Benghazi.
Gheriani kemudian membandingkan Khadafi seperti serigala yang terluka.
"Serigala yang terluka lebih berbahaya. Tapi kami tetap berharap lingkaran dekat Khadafi terus meninggalkannya, dan dia akan menemukan dirinya sendirian, tanpa seorang pun di sekelilingnya," ujar Benghazi.
Sedangkan Juru Bicara Gedung Putih, Jay Carney, mengatakan keruntuhan lingkaran dekat Khadafi diperlihatkan dengan mundurnya Koussa.
Amerika Serikat pun berharap Koussa bisa memberikan sejumlah informasi kepada pasukan koalisi. "Koussa dapat memberikan informasi intelijen tentang rencana Khadafi atau strategi militer yang sedang dijalankan," kata Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Tommy Vietor.
Home »
» Khadafi: Pemimpin Koalisi yang Harus Mundur
Khadafi: Pemimpin Koalisi yang Harus Mundur
Posted by Rakhma Andamari
Posted on 10.00
with No comments
Muammar Khadafi (therealtimer.com)

0 komentar:
Posting Komentar